-->

Eksistensialisme dan Pendidikan

edukasi NET
Sunday, April 4, 2021, 9:54 PM WIB Last Updated 2021-04-05T04:55:07Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini



Pemahaman paling sederhana dari eksistensi adalah berdiri sendiri sebagai diri sendiri. Sebagaimana menurut Heideggard, “Das wesen des daseins liegh in seiner Exixtenz”. (Da – sein tersusun dari dad dan sein) da berarti di sana, sein berarti berada. Artinya, manusia sadar dengan tempatnya berada. 

Menurut Sartre, adanya manusia itu bukanlah etre, melainkan a etre – manusia itu tidak hanya ada, tetapi dia selamanya harus membangun adanya, dan adanya itu harus selalu dibentuk dengan tidak henti-hentinya.

Paham eksistensialisme, tidak membahas esensi manusia secara abstrak tetapi tentang hakikat manusia secara spesifik, serta meneliti kenyataan konkrit manusia, sebagaimana manusia itu sendiri berada dalam dunianya masing-masing. 


Eksistensialisme tidak mencari esensi atau substansi yang ada di balik penampakan manusia, tetapi mengungkap eksistensi manusia sebagaimana yang dialami manusia itu sendiri, misalnya seperti pengalaman individu. 

Esensi atau substansi mengacu pada sesuatu yang umum, abstrak, statis, sehingga menafikan hal yang konkret, individual, dan dinamis. Sebaliknya, eksistensi justru mengacu pada hal yang konkret, individual dan dinamis. Itu dimaksudkan karena seorang individu belajar dari apa yang mereka alami sesuai faktanya. Dan itu dialami oleh dirinya sendiri, dan bukan orang lain.

Konsep Dasar Eksistensialisme
Istilah eksistensialisme berasal dari kata dasarnya eksistensi yaitu kata yang berasal dari kata exist, yang merupakan gabungan dari kedua kata: ex=keluar, dan sister= ada atau berada. Sehingga eksistensi memiliki arti sebagai sesuatu yang sanggup keluar dari keberadaannya atau “sesuatu yang mampu melampaui dirinya sendiri”.

Paham eksistensialisme dalam aliran filsafat, lebih berpusat pada manusia "individu" yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas, tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya, maka masing-masing individu akan bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.

Eksistensialisme muncul dengan mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-Ada-an itu dihadirkan melalui sebuah “kebebasan”. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme melalui prinsip kebebasan adalah, apakah kebebasan itu? Bagaimanakah bentuk manusia yang bebas? Sehingga sesuai dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme pun menolak setiap bentuk determinasi terhadap kebebasan, kecuali kebebasan itu sendiri.

Eksistensialisme mulai dikenal dengan kehadiran Jean-Paul Sartre, yang muncul dengan diktumnya "human is condemned to be free", atau manusia di kutuk untuk bebas. Artinya, dengan adanya kebebasan, maka manusia bisa bertindak. Aliran eksistensialisme Sartre dipengaruhi tiga pemikiran pokok, yaitu: Marxisme, Eksistensialisme, dan fenomenologi (Iris Murdoch, 1976).

Meskipun sebenarnya, dasar eksistensialisme dari Sartre bukanlah suatu aliran filsafat, melainkan sebuah gerakan perlawanan pada filsafat tradisional (Walter Kaufmann, 1965). Sebab dalam eksistensialismenya, Sartre justru banyak menggarap permasalahan mengenai manusia. 

Sartre membahas tentang kebebasan menjadi seorang manusia, bahkan hasrat manusia untuk menjadi Tuhan. Pertanyaan yang sering muncul sebagai derivasi kebebasan eksistensialis adalah, sejauh mana kebebasan tersebut bebas? atau "dalam istilah orde baru", apakah eksistensialisme mengenal "kebebasan yang bertanggung jawab"? Bagi eksistensialis, ketika kebebasan adalah satu-satunya universalitas bagi manusia, maka batasan untuk kebebasan dari setiap individu adalah juga kebebasan individu lainnya. Inilah prinsip terdalam dalam memahami filsafat eksistensialisme ini.

Menjadi eksistensialis bukan selalu harus menjadi seorang yang berbeda daripada yang lain, sadar bahwa keberadaan dunia merupakan sesuatu yang berada di luar kendali manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yang unik ataupun sesuatu yang baru, menjadi esensi dari eksistensialisme. Membuat pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan menjadi sadar akan tanggungjawabnya pada masa depan, adalah inti daripada eksistensialisme.

Sebagai contohnya, mau tidak mau kita akan terjun ke berbagai profesi seperti dokter, desainer, insinyur, pebisnis dan sebagainya, tetapi yang dipersoalkan oleh eksistensialisme adalah, apakah kita menjadi dokter atas keinginan orang tua, atau keinginan sendiri? Inilah makna eksistensi diri. 

Eksistensialis menyarankan kita untuk membiarkan apa pun yang akan kita kaji, baik itu benda, perasaaan, pikiran, atau bahkan eksistensi manusia sendiri untuk menampakkan dirinya pada kita. Hal ini dapat dilakukan dengan membuka diri terhadap pengalaman, lalu menerimanya, walaupun misalnya tidak sesuai dengan filsafat, teori, atau keyakinan kita.

Dalam kenyataan hidup sehari-hari, tidak ada sesuatupun yang mempunyai ciri atau karakter existere selain manusia. Hanya manusia yang bereksistensi. Hanya manusia yang sanggup keluar dari dirinya sendiri, dan melampaui keterbatasan biologis lingkungan fisiknya dengan berusaha agar tidak terkungkung dari segala keterbatasan yang dimillikinya. 

Misalnya orang cacad atau orang yang tidak memiliki kaki, dia mampu keluar dari dirinya, dan bisa berbaur dengan orang lain, tanpa harus memperdulikan kekurangan yang ada pada dirinya. Dia mampu berkreasi tanpa bantuan orang lain dan mampu menghasilkan uang dari apa yang telah diperbuat.

Para eksistensialis menyebut manusia sebagai suatu proses “menjadi” gerak yang aktif dan dinamis. Sebagaimana sang Sartre berdalil, “eksistensi mendahului esensi,” yaitu segala sesuatu baru dapat dimaknai ketika ia sendiri “eksis” atau “ada” terlebih dahulunya.

Eksistensi sebagaimana dimaksudkan Sartre dan filsafat pada umumnya, memenuhi dimensi ruang dan waktu. Apa yang dimaksudkan adalah, bahwa segala sesuatu yang bereksistensi pasti nyata. Sebagaimana dalil landasan dasar utama dari eksistensialisme adalah “eksistensi mendahului esensi”.

Dengan kata lain, seorang eksistensialis menurut Sartre, adalah mereka-mereka yang meyakini kesahihan dalil eksistensi mendahului esensi, di mana segala sesuatu akan dapat dimaknai ketika ia eksis atau ada terlebih dahulunya.

Eksistensialisme Pendidikan
Dasar terpenting di sini bahwa, eksistensialisme sangat berhubungan dengan pendidikan. Karena pusat pembicaraan eksistensialisme adalah tentang keberadaan manusia. Sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia. Untuk itu, beberapa hal penting terkait dengan penerapan eksistensialisme dalam pendidikan adalah sebagai berikut. 

a). Pengetahuan
Teori pengetahuan eksistensialisme lebih banyak dipengaruhi oleh filsafat fenomenologi, suatu pandangan yang menggambarkan penampakan benda-benda dan peristiwa-peristiwa sebagaimana benda-benda tersebut menampakan dirinya terhadap kesadaran manusia.

Pengetahuan manusia tergantung pemahamannya tentang realitas, juga tergantung interpretasi manusia terhadap realitas. Pengetahuan yang diberikan di sekolah bukan sebagai alat untuk memperoleh pekerjaan atau karir anak, melainkan untuk dapat dijadikan alat perkembangan dan alat pemenuhan diri. Pelajaran di sekolah akan dijadikan alat untuk merealisasikan diri, dan bukan merupakan suatu disiplin yang kaku, dimana anak harus patuh dan tunduk terhadap isi pelajaran tersebut. Biarkan pribadi anak berkembang untuk menemukan kebenaran-kebenaran dalam kebenaran.

b). Nilai
Pemahaman eksistensialisme terhadap nilai, lebih menekankan kebebasan dalam tindakan. Kebebasan bukan tujuan atau suatu cita-cita dalam dirinya sendiri, melainkan lebih merupakan suatu potensi untuk sebuah tindakan. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih, namun menentukan pilihan-pilihan di antara pilihan-pilihan yang terbaik adalah yang paling sulit. Berbuat akan menghasilkan akibat, dimana seseorang harus menerima akibat-akibat tersebut sebagai pilihannya. Kebebasan tidak pernah selesai, karena setiap akibat akan melahirkan kebutuhan untuk pilihan berikutnya.

Tindakan moral mungkin dilakukan untuk moral itu sendiri, dan mungkin juga untuk suatu tujuan. Individu harus berkemampuan untuk menciptakan tujuannya sendiri. Apabila seseorang mengambil tujuan kelompok atau masyarakat, maka ia harus menjadikan tujuan-tujuan tersebut sebagai miliknya, sebagai tujuan sendiri, yang harus ia capai dalam setiap situasi. Jadi, tujuan diperoleh dalam situasi.

c). Pendidikan
Eksistensialisme sebagai salah satu aliran filsafat, menekankan individualitas dan pemenuhan diri secara pribadi. Setiap individu dipandang sebagai makhluk unik, dan secara unik pula ia bertanggung jawab terhadap nasibnya. Pendidikan dan eksistensialisme berhubungan erat, karena keduanya bersinggungan satu dengan yang lainnya pada masalah-masalah yang sama, yaitu manusia, hidup, hubungan antar manusia, hakikat kepribadian, dan kebebasan. Jadi, yang menjadi pusat pembicaraan eksistensialisme di sini adalah “keberadaan” manusia. Sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia.

d) Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri. Indivudu memiliki kebutuhan dan perhatian yang spesifik berkaitan dengan pemenuhan dirinya sendiri, sehingga dalam menentukan kurikulum, tidak ada kurikulum yang pasti dan ditentukan berlaku secara umum.

e) Kurikulum
Eksistensialisme menilai kurikulum pada apakah hal itu berkontribusi pada pencarian individu akan makna dan muncul dalam suatu tingkatan kepekaaan personal atau tidak. Kurikulum ideal, adalah kurikulum yang dipandang memberikan para siswa kebebasan individual yang luas dan mensyaratkan mereka untuk bisa melakukan hal-hal seperti:mengajukan pertanyaan, melaksanakan pencarian mereka sendiri, serta menarik kesimpulan mereka sendiri.

Menurut pandangan eksistensialisme, tidak ada satu mata pelajaran tertentu yang lebih penting daripada yang lainnya. Semua sama pentingnya. Mata pelajaran, adalah materi, dimana individu akan dapat menemukan dirinya dan kesadaran akan dunianya. Mata pelajaran yang dapat memenuhi tuntutan di atas adalah mata pelajaran IPA, sejarah, sastra, filsafat, dan seni. Bagi beberapa anak, pelajaran yang dapat membantu untuk menemukan dirinya adalah IPA, namun bagi yang lainnya mungkin saja bisa sejarah, filsafat, sastra, dan sebagainya.

Dengan mata-mata pelajaran tersebut, siswa akan berkenalan dengan pandangan dan wawasan para penulis dan pemikir termasyur, memahami hakikat manusia di dunia, memahami kebenaran dan kesalahan, kekuasaan, konflik, penderitaan, bahkan tema kematian. Kesemuanya merupakan tema-tema yang akan melibatkan siswa, baik itu secara intelektual maupun emosional.

Misalnya, kaum eksistensialisme melihat sejarah sebagai perjuangan manusia mencapai kebebasan. Siswa harus melibatkan dirinya dalam periode apapun yang sedang dipelajari dan menyatukan dirinya dalam masalah-masalah kepribadian yang sedang dipelajarinya. Sejarah yang dipelajari harus dapat membangkitkan pikiran dan perasaannya serta menjadi bagian dirinya.

Kurikulum eksistensialisme memberikan perhatian besar terhadap humaniora dan seni. Karena kedua materi tersebut diperlukan agar individu dapat mengadakan instrospeksi dan mengenalkan gambaran dirinya. Pelajar harus didorong melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan, serta memperoleh pengetahuan yang diharapkan.

Eksistensialisme dalam hal ini menolak apa yang disebutkan “penonton teori”. Oleh karena itu, sekolah harus mencoba untuk membawa siswa ke dalam realitas hidup yang sebenarnya. 

f). Proses belajar mengajar
Menurut Kneller (1971), konsep belajar-mengajar eksistensialisme dapat diaplikasikan dari pandangan Martin Buber tentang “dialog”. Dialog merupakan percakapan antara pribadi dengan pribadi, dimana setiap pribadi merupakan subjek bagi yang lainnya.

Menurut Buber, kebanyakan proses pendidikan merupakan paksaan. Anak dipaksa menyerah kepada kehendak guru, atau pada pengetahuan yang tidak fleksibel, dimana guru menjadi penguasa dialognya. Selanjutnya buber mengemukakan, guru hendaknya tidak boleh disamakan dengan seorang instruktur. Jika guru disamakan dengan instruktur, maka guru hanya akan merupakan perantara yang sederhana antara materi pelajaran dengan siswa. Seandainya guru hanya dianggap sebagai alat untuk mentransfer pengetahuan, maka siswa akan menjadi hasil dari transfer tersebut. Pada titik ini, pengetahuanlah yang akan menguasai manusia, sehingga manusia menjadi alat dan produksi dari pengetahuan tersebut.

Dalam proses belajar-mengajar, pengetahuan tidak dilimpahkan melainkan ditawarkan. Untuk menjadikan hubungan antara guru dengan siswa sebagai suatu dialog, maka pengetahuan yang akan diberikan kepada siswa harus menjadi bagian dari pengalaman pribadi guru itu sendiri, sehingga guru akan berjumpa dengan siswa sebagai pertemuan antara pribadi dengan pribadi. Pengetahuan yang ditawarkan guru tidak merupakan sesuatu yang diberikan kepada siswa yang tidak dikuasainya, melainkan merupakan suatu aspek yang telah menjadi miliknya sendiri.

g). Peranan guru
Menurut pemikiran eksistensialisme, kehidupan tidak akan bermakna apa-apa, dan alam semesta berlainan dengan situasi yang manusia temukan sendiri di dalamnya. Kendatipun demikian, dengan kebebasan yang manusia miliki, masing-masing dari individu harus komit pada penentuan makna bagi kehidupannya sendiri.

Sebagaimana yang dinyatakan oleh seorang filsuf pendidikan terkenal yang karyanya didasarkan pada eksistensialisme, Maxine Greene (dalam Parkay, 1998) bahwa, “kita harus mengetahui kehidupan kita, menjelaskan situasi-situasi kita jika kita memahami dunia dari sudut pendirian bersama”. Urusan manusia yang paling berharga yang mungkin paling bermanfaat dalam mengangkat pencarian pribadi akan makna, adalah merupakan proses edukatif. Para guru dalam hal ini harus memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih dan memberi mereka pengalaman-pengalaman yang akan membantu mereka menemukan makna dari kehidupan mereka. Pendekatan ini berlawanan dengan keyakinan banyak orang, tidak berarti bahwa para siswa boleh melakukan apa saja yang mereka suka.

Guru hendaknya memberikan semangat pada siswa untuk memikirkan dirinya dalam suatu dialog. Guru menyatakan ide-ide yang dimiliki siswa, dan mengajukan ide-ide lain, dan membimbing siswa memilih alternatif-alternatif, sehingga siswa melihat bahwa kebenaran yang tidak terjadi pada manusia melainkan dipilih oleh manusia itu sendiri. Lebih dari itu, siswa harus menjadi pemain dalam suatu drama belajar, dan bukan menjadi sekedar penonton. Siswa harus belajar keras seperti gurunya. Guru harus mampu membimbing dan mengarahkan siswa dengan seksama sehingga siswa mampu berpikir relatif dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dalam arti, guru tidak mengarahkan dan tidak memberikan instruksi.

Guru hadir dalam kelas dengan wawasan yang luas agar betul-betul menghasilkan diskusi pelajaran efektif. Diskusi merupakan metode utama dalam pandangan eksistensialisme. Siswa memiliki hak untuk menolak interpretasi guru tentang pelajaran. Sekolah merupakan suatu forum dimana para siswa mampu berdialog dengan teman-temannya, dan guru membantu menjelaskan kemajuan siswa dalam pemenuhan dirinya.

Oleh: Abdy Busthan
Komentar

Tampilkan

Terkini

Slider

+