-->

Sekolah Kaum 'Amuit' Versus Kaum 'Mamuit'

edukasi NET
Saturday, May 25, 2013, 12:14 PM WIB Last Updated 2021-04-04T16:35:44Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


Dahulu, orang tua selalu berpikiran bahwa bersekolah di sekolah ‘negeri lebih baik daripada di swasta. Mungkin anggapan seperti itu tidak sepenuhnya benar. Sebab sudah banyak sekolah swasta yang menunjukkan kelebihan di berbagai bidang. 

Kenyataan yang terlihat di kota Kupang, ada sedikit perbedaan yang membuat orang-orang lebih memilih sekolah negeri dari pada sekolah swasta. Perbedaan tersebut salah satunya adalah masalah biaya. 

Tentu fenomena tersebut menunjukkan bahwa pendidikan adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan begitu saja dengan kehidupan masyarakat. Apalagi pendidikan formal yang ada di Indonesia terdiri dari sekolah swasta dan negeri yang selalu menjadi pilihan orangtua untuk menyekolahkan anaknya. 

Apakah Sekolah Swasta High Class?
Bukan hal yang baru lagi jika kebanyakan dari orang-orang yang mempunyai kemampuan ekonomi lebih, tanpa ragu-ragu memasukkan anaknya ke sekolah swasta, sehingga akhirnya sekolah swasta banyak dijejali oleh orang-orang yang menganggap dirinya lebih tinggi kedudukan sosialnya dari orang lain, atau yang biasa dikenal dengan istilah high class (kelas atas). 

Seiring kemajuan teknologi dan media komunikasi yang luas, serta sistem pergaulan yang bebas, menyebabkan siswa sekolah-sekolah swasta yang memiliki kemampuan ekonomi di atas rata-rata, kerapkali menunjukkan diri sebagai orang “kaya". Teman-temannya pun mulai mengikuti apa yang mereka lakukan, meskipun kadang secara ekonomi tidak mendukung. 

Gaya hidup mereka terlihat dari kendaraan yang dipakai ke sekolah, baik mobil maupun motor, perhiasan yang di pakai, cara berdandan, gaya rambut, gaya berpakaian, tempat jajan, ternpat nongkrong, dan penampilan yang lainnya. 

Mereka pun senang menjadi tempat ukuran atau “trend center" bagi teman lainnya. Fenomena tersebut terus terjadi. Dan bagi mereka, sekolah_hanyalah tempat untuk berkumpul dengan teman-teman tanpa begitu memperdulikan pelajaran. 

Dari situ mulailah muncul anggapan bahwa anak-anak yang bergaya hidup mewah tidak diikuti dengan prestasi yang baik. 

Demikianlah fenomena yang tampak sekarang, bahwa sekolah swasta didominasi oleh anak orang kaya serta lingkungan sekolah dijadikan ajang untuk memamerkan kekayaan orangtua serta tempat berkumpul dengan teman-teman yang sederajad tanpa begitu memperdulikan pelajaran.

Stratifikasi Sosial
Perbedaan antara anak yang bergaya hidup mewah dengan anak yang biasa saja (bersahaja) sudah barang tentu menimbulkan kesenjangan di antara mereka. Abraham dalam Aminuddin (2007), berpendapat bahwa teori stratifikasi sosial dari Weber sebenarnya merupakan suatu tanggapan terhadap ajaran-ajaran Marx mengenai masalah tersebut. 

Salah satu pokok permasalahannya adalah mengenai dimensi-dimensi stratifikasi sosial, yakni dimensi ekonomis, sosial dan politis. Weber berpendapat bahwa di dalam setiap tertib sosial, warga-warga masyarakat terbagi dalam kelas-kelas (ekonomis), kelompok status (sosial) dan partai-partai (politis). 

Hubungan antara ketiganya bersifat timbal-balik. Marx menganggap bahwa dimensi ekonomis yang menentukan dimensi-dimensi lainnya, sedangkan Weber mengadakan pembedaan antara dasar ekonomis dengan dasar kedudukan sosial akan tetapi tetap mempergunakan istilah ‘kelas’ bagi semua lapisan. 

Adanya kelas yang bersifat “ekonomis” dibaginya lagi ke dalam sub kelas yang bergerak dalam bidang ekonomi dengan menggunakan kecakapannya. Disamping itu, Weber masih menyebutkan adanya golongan yang mendapat kehormalan khusus dari masyarakat dan dinamakannya stand (Campbell,1994:65).

Dengan demikian, teori stratifikasi dari Weber bisa dijadikan tolak ukur untuk menyimpulkan bahwa baik di masyarakat maupun di lembaga pendidikan, terbagi dalam kelas-kelas berdasarkan tingkat kemampuan ekonomi, dimana perbedaan antara anak yang bergaya hidup mewah dengan anak yang biasa saja (bersahaja) akan menimbulkan kesenjangan diantara mereka.

Setiap masyarakat senantiasa mempunyai penghargaan tertentu terhadap hal-hal tertentu dalam masyarakat yang bersangkutan. Penghargaan yang lebih tinggi terhadap hal-hal tertentu akan menempatkan hal tersebut pada kedudukan yang lebih tinggi dari hal-hal lainnya. 

Jika suatu masyarakat lebih menghargai kekayaan material dari pada kehormatan, maka mereka yang lebih banyak mempunyai kekayaan material, akan menempati kedudukan yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan pihak-pihak lain. Gejala tersebut menimbulkan lapisan masyarakat yang merupakan pembedaan posisi seseorang atau suatu kelompok dalam kedudukan yang berbeda-beda secara.vertikal (Soekanto, 1993:27). 

Di sini nampak jelas, bahwa Abraham juga memperkuat teori weber, dengan memandang bahwa setiap masyarakat senantiasa mempunyai penghargaan tertentu, sehingga gejala tersebut menimbulkan terjadinya lapisan dalam masyarakat yang merupakan pembedaan posisi seseorang atau suatu kelompok dalam kedudukan yang berbeda-beda secara vertikal.

Pada zaman kuno, filosof Aristoteles (Yunani) mengatakan bahwa di dalam sebuah  negara terdapat tiga unsur, yaitu mereka yang kaya sekali, yang melarat, dan yang berada di tengah-tengahnya (Ahmanuddin,2007:1). Ucapan demikian sedikit banyaknya membuktikan bahwa di zaman itu dan sebelumnya orang telah mengakui adanya lapisan masyarakat yang mempunyai kedudukan bertingkat-tingkat dari bawah ke atas (Maliki Zainuddin,2010:41). 

Dari gambaran di atas, sang filsuf Aristoteles, lebih memperkuat lagi pendapat Weber dan Abraham dengan membuktikan bahwa di zaman dulu dan sebelumnya orang telah mengakui adanya lapisan masyarakat yang mempunyai kedudukan bertingkat-tingkat dari bawah ke atas.

Sistem Lapisan Masyarakat
Seorang sosiolog terkemuka, Pitirim A, Sorikin (dalam tim sosiologi SMA, 2004:248), mengatakan bahwa :  “ Sistem lapisan merupakan ciri yang tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur. Barangsiapa yang memiiiki sesuatu yang berharga dalam jumlah yang sangat banyak dianggap masyarakat berkedudukan dalam lapisan atas. Mereka yang hanya memiliki barang berharga sedikit sekaii atau tidak memiliki sesuatu yang berharga dalam pandangan masyarakat, mempunyai kedudukan “yang rendah”, biasanya golongan yang berada dalam lapisan atas tidak hanya memiiiki satu macam saja dari apa yang dihargai oieh masyarakat, tetapi kedudukannya yang tinggi itu bersifat kumulatif “.

Sistem lapisan dalam masyarakat tersebut dalam sosiologi di kenal dengan Social Stratification. Kata stratification berasal dari stratum (jamaknya: strata yang berarti lapisan). Social stratification adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hirarkis). 

Perwujudannya adalah kelas-kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah. Dasar dan inti lapisan masyarakat adalah tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak dan kewajiban, kewajiban dan tanggung jawab nilai-nilai sosial, dan pengaruhnya di antara anggota-anggota masyarakat. 

Bentuk-bentuk kongkrit lapisan masyarakat sangat banyak. Akan tetapi secara prinsipil bentuk-bentuk tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam tiga (3) macam kelas, yaitu yang ekonomi, politis, dan yang didasarkan pada = jabatan-jabatan tertentu dalam masyarakat (Basrowi, 2005:123). 

Dapat simpulkan bahwa sistem lapisan yang merupakan ciri tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur. Schumpeter (dalam Soekanto, 1982:235) mengatakan bahwa terbentuknya kelas-kelas dalam masyarakat adalah karena diperlukan untuk menyesuaikan masyarakat dengan keperluan-keperluan yang nyata. Makna kelas dan gejala-gejala kemasyarakatan lainnya hanya dapat dimengerti dengan benar apabila di ketahui riwayat terjadinya.

Dengan pasti, Schumpeter menekankan disini tentang makna kelas dan gejala-gejala kemasyarakatan lainnya hanya dapat dimengerti dengan benar apabila di ketahui riwayat terjadinya. Jika kelas dikaitkan dengan produksi barang, maka gaya hidup berkaitan dengan konsumsi barang-barang. 

Hubungannya, antara kelas dengan status merupakan masalah yang sangat penting bagi Weber. Di satu pihak; Weber menyatakan bahwa status dapat didasarkan pada pemilikan (harta kekayaan), dan cenderung demikian pada masa mendatang. 

Disamping itu, Weber juga membedakan (secara tajam) antara status dengan ketamakan ekonomis semata-mata, dimana dia menyatakan bahwa kelompok status yang sama mencakup orang-orang dari situasi kelas yang berbeda-beda, misalnya kepala-kepala dan anak buahnya mungkin menjadi anggota dari suatu klub yang sama (Basrowi dan Soenyono, 2004:183). gaya hidup sebagai mana dikatakan Weber, sebenarnya memberikan pembatasan pada pola interaksi. Gejala itu dengan sendirinya mengakibatkan bahwa seseorang akan menahan diri untuk bergaul dengan orang lain yang rendah kedudukannya. Kondisi yang penting jika kehormatan status adalah identik dengan posisi kelas serta berlangsung lama.

Dengan demikian, bagi sang Weber, hubungan antara kelas dengan status merupakan masalah yang sangat penting. Karena status dapat didasarkan pada pemilikan (harta kekayaan), dan cenderung demikian pada masa mendatang. Sehingga gaya hidup sebagaimana dikatakan Weber, memberikan pembatasan pada pola interaksi. Gejala itu dengan sendirinya mengakibatkan bahwa seseorang akan menahan diri untuk bergaul dengan orang lain yang rendah kedudukannya.

Teori stratifikasi Weber tidak serta merta berlaku untuk sistem stratifikasi di daerah Timur. Mengingat konteks dan situasi yang berbeda serta terdapat enam kasta sosial yang berlaku didaerah Timur, yakni: 1) Kelompok pemuka agama, 2) Kelompok strata sosial bangsawan, 3) Kelompok pribumi dan pendatang (termasuk didalamnya keturunan cina), 4) Kelompok kelas sosial yang ditempati  pedagang, 5) Kelompok buruh dan pekerja serta petani 6) Kelompok gelandangan, orang gila dan pengemis. sehingga disini stratifikasi Weber hanya dapat terukur pada gaya hidup, kehormatan, dan hak-hak istimewa serta kelas ekonomi/kepemilikin harta (orang kaya dan miskin).

Kelas Sosial Masyarakat Timur
Kondisi masyarakat Timur sendiri terbagi ke dalam kelompok-kelompok sosial seperti yang disebutkan diatas. Namun pada umumnya, yang sangat terkenal dalam masyarakat Timur dan sekitarnya hanya dua kelompok sosial yaitu: Mamuit dan Amuit

Kelompok “Mamuit” (orang miskin), terdiri dari kelompok buruh dan pekerja serta petani. Kelompok ini terdiri dari masyarakat yang hanya berpenghasilan pas-pasan. Dimana kelompok ini tidak memiliki banyak kekayaan dan selalu hidup dalam keterbatasan ekonomi.

Sedangkan kelompok yang kedua adalah Kelompok “Amuit” (orang kaya) yang terdiri dari komunitas pedagang, dimana mayoritasnya terdiri dari etnis keturunan cina dan suku bugis makassar. 

Kelompok pedagang ini rata-rata memiliki toko, kios dan usaha swasta lainnya di daerah Timur dan sekitarnya, sehingga dengan sendirinya kelompok ini memiliki status istimewa yaitu high class yang artinya kelompok kelas teratas di tengah masyarakat Timur dan sekitarnya. Hal ini tentu saja terukur dengan kepemilikan harta serta gaya hidup dan penampilan mereka sehari-hari yang mencerminkan ciri mereka sendiri, yang membedakan mereka dengan golongan masyarakat yang lain.

Kelompok “Amuit” juga cenderung tertutup dan hanya bergaul dengan kalangan mereka sendiri, bahkan mereka sendiri selalu berlomba-lomba untuk menonjolkan diri/status mereka diantara mereka sendiri bahkan di lembaga-lembaga pendidikan, pemerintah serta masyarakat sekitar. 

Hal ini tentu saja sangat berdampak pada lingkungan pendidikan di daerah tersebut, dimana sekolah selalu di jadikan ajang untuk memamerkan status dan kekayaan. 

Dari pemaparan diatas, dapat dikatakan bahwa dalam kehidupan masyarakat Timur, terbagi kedalam dua kelompok besar, yaitu Mamuit (Miskin) dan Amuit (Kaya), yang tentu saja hal ini sangat berdampak pada lingkungan pendidikan di sekolah-sekolah, dimana sekolah selalu akan di jadikan ajang untuk memamerkan status dan kekayaan.

Masih nampak terlihat adanya pengelompokan-pengelompokan siswa dengan siswa lainnya berdasarkan tingkatan latar belakang ekonomi dan kepemilikan harta dari orang tua. 

Dengan kata lain, dalam lingkungan sekolah di tanah Timur, masih terdapat dua kelompok besar yang terbentuk akibat strata sosial orangtua yang ada dalam lingkungan masyarakat, yakni kelompok Mamuit dan Amuit

Kelompok siswa Amuit selalu berpenampilan keren dan mengikuti Trend jaman sekarang dan selalu menggunakan kendaraan bermotor serta terlihat selalu mengantongi uang jajan. Kelompok ini berasal dari anak-anak pedagang dan saudagar hewan. 

Sedangkan Kelompok siswa Mamuit terdiri dari siswa yang hanya berpenampilan biasa-biasa/sederhana adalah kelompok yang berasal dari anak-anak kaum petani dan buruh. 

Banyak yang beranggapan, bahwa siswa yang bergaya hidup mewah (Amuit) hanya menampilkan penampilan saja tanpa memperhatikan prestasi akademisnya. Bahkan ada pula yang beranggapan bahwa kelompok Amuit datang ke sekolah bukan untuk belajar, melainkan hanya untuk pamer atau sekedar menunjukkan barang-barang baru dan mewah yang baru mereka dapatkan dengan uang yang mereka miliki. 

Namun berbeda dengan informasi dari beberapa guru  yang mengatakan tidak semua siswa kelompok Amuit memiliki prestasi akademis yang buruk. Karena ada juga kelompok siswa Amuit yang memiliki prestasi akademis yang baik, dimana mereka berfikir bahwa belajar harus didahulukan. 

Demikiaan juga halnya dengan kelompok siswa Mamuit, dimana banyak kalangan beranggapan bahwa kelompok siswa ini selalu memperhatikan prestasi akademisnya tanpa memperhatikan penampilannya di sekolah. Namun ada juga yang beranggapan bahwa siswa kelompok Mumuit sangat tertinggal dan tidak memiliki prestasi akademis yang baik, oleh karena tidak didukung dengan fasilitas dan media pembelajaran yang baik pula.

Hal lain yang terlihat di lingkungan sekolah di tanah Timur, bahwa dengan terbentuknya dua kelompok, Amuit dan Mamuit, maka aktivitas dan kegiatan sehari-hari disekolah menjadi sangat terganggu. Karena dalam suatu lingkungan sekolah sebagai lembaga pendidikan formal sudah terbentuk dua kelompok yang berbeda, dimana kelompok Amuit tidak akan mau atau enggan untuk bergaul dengan siswa dari kelompok Mamuit. Dan hal ini menimbulkan kesenjangan sosial yang harus segera disikapi oleh guru, kepala sekolah dan seluruh stakeholder pendidikan di daerah Nusa Tenggra Timur.

Dapat disimpulkan bahwa secara garis besarnya, di dalam lingkungan sekolah di daratan timur, masih terdapat dua kelompok besar yang terbentuk akibat strata sosial orangtua dalam masyarakat, yakni kelompok Mamuit dan Amuit, dimana ke dua kelompok ini menjadi persoalan yang dapat menggerogoti aktivitas dan kegiatan pembelajaran di sekolah – sekolah yang ada di tanah Timur Nusa Tenggara Timur.

Dengan uraian diatas, maka menjadi persoalan mendasar untuk kita semua, bahwa sekolah yang dulunya bertujuan sebagai tempat untuk menimba ilmu, sekarang sudah mulai bergeser fungsinya? Dimana pada kenyataannya, para siswa membuat sekolah bukan lagi sebagai tempat untuk menuntut ilmu dengan perbedaan dalam kebersamaan, tetapi justru menciptakan perbedaan diantara mereka... BERSAMBUNG

(Oleh: Abdy Busthan)
Komentar

Tampilkan

Terkini

Slider

+